Mediaku, Kampanyeku..

Saya tidak bisa membayangkan siapa yang akan memenangkan ‘pesta demokrasi’ tahun depan. Saya apit istilah pesta demokrasi itu dalam tanda kutip karena saya rasa pemilihan umum itu memang bukan sebuah pesta. Pesta apa yang isinya orang-orang bertarung dengan menggunakan berbagai cara? Mulai dari suap uang dan barang, suap aspal, bahkan pakai klenik-klenik-an. Jika isinya seperti ini saya yakin ini bukan pesta, melainkan sasana. 

Dan yang menyeramkan, sasana ini harus kita hadapi setiap 5 tahun sekali. Pemenangnya pun kemungkinan bukan yang terbaik, melainkan yang buruk tapi 'cerdik'. 

Sebelum tanding juga sudah bisa kau lihat siapa yang lebih 'cerdik'. Contohnya? Yang punya media. Waktu kampanye belum mulai dia sudah mejang-mejeng di layar kaca. Tak ada yang salah memang. Kalau kata Adiguna "wong rumah saya sendiri mau saya tabrak, mau saya bakar juga terserah saya. Rumah saya".

Dalam kasus beliau, pernyataan itu benar. Tapi dalam kasus pasangan capres yang punya kuis TV sendiri itu, saya tidak setuju.

TV itu meminjam saluran (frekuensi) udara milik publik. Maka seyogyanya konten yang dihadirkan juga yang dibutuhkan untuk publik. Tidak perlulah ada acara kuis "MENANG - Handy Talky" yang membagi-bagi hadiah. Hadiah, ya. Pemberian. Dan kalau benar pemenangnya adalah penonton TV tersebut, maka besar kemungkinan hadiah itu bakal mempengaruhi keinginan orang untuk memilih/tidak memilih. Kalau dimudahkan bahasanya, suap juga seperti itu bentuknya.

Tidak perlu juga dalam acara infotainment bapak ini ikut diliput. Kalau dilihat dari sisi news-value, beliau tidak punya nilai berita yang cukup tinggi. Ia (hanya) pengusaha. Tidak punya tingkat populer yang tinggi, atau drama yang seru, tidak juga punya dampak yang besar. 

Satu-satunya dampak besar yang akan ia timbulkan adalah bila ia menggunakan medianya untuk urusan politik. Melihat porsi dia sekarang yang cukup sering tampil di medianya sendiri, saya tidak bisa membayangkan seperti apa nantinya dia akan memakai saluran publik itu untuk kepentingan politik. 

Kebayang gak nanti di hampir setiap program Seputaran Indonesia ada dia sebagai berita atau sekadar menjadi narasumber?
Kebayang gak kalau infotaiment pun akan meliput saat ia ulang tahun atau menghabiskan liburan bersama keluarga?
Kebayang gak muka dia akan tampil di TV rajawali itu tiap hari dengan adegan ia sedang bekerja untuk rakyat atau sok dekat dengan rakyat? Hihi..

Sebenarnya sentilan ini bukan hanya untuk bapak Handy Talky, tapi juga untuk semua politisi yang memanfaatkan medianya untuk kepentingan politik.

===

8 Desember, 
Rumah,
Setelah melihat insert meliput ulang tahun Ibunda HT. 

Komentar